Belum ada tanda naskah. Klik ikon bookmark untuk menandai bagian yang sedang dibuka.
Oleh M. Farhan Syakur, S.Hum.
· 01 Sep 2026
Pengetian Mubtada’ Khabar (مُبْتَدَأ وَخَبَر)
Kita mengenal susunan kalimat sempurna dalam bahasa Indonesia terdiri dari subjek dan predikat. Nah, dalam bahasa Arab pun memiliki aturan susunan kalimat yang serupa yang disebut dengan mubtada’ khabar (مُبْتَدَأٌ خَبَرٌ). Kalau dipadankan maka istilah subjek sepadan dengan mubtada’ sedangkan istilah predikat sepadan dengan khabar.
Secara definisi, mubtada’ (المُبْتَدَأُ) adalah isim (اسْمٌ) yang berada di awal kalimat. Sedangkan khabar (الخَبَرُ) adalah kata yang disandarkan kepada mubtada’ yang berfungsi sebagai penjelas.
Mari kita bahas melalui beberapa contoh berikut ini.
Pembahasan Pertama
Perhatikan contoh kalimat berikut ini.

Kalimat di atas adalah kalimat sempurna yang terdiri dari mubtada’ (مُبْتَدَأ) dan khabar (خَبَر). Dalam konteks susunan kalimat bahasa Indonesia, kalimat di atas terdiri dari subjek dan predikat.
Kata المَسْجِدُ (masjid) adalah kata yang berada di awal kalimat. Sehingga secara gramatikal kata al-masjidu disebut dengan mubtada’ (مُبْتَدَأ). Sedangkan kata قَرِيْبٌ (dekat) adalah kata yang disandarkan kepada mubtada’ sebagai penjelas makna sehingga kata qoriibun secara gramatikal disebut dengan khabar (خَبَر).
Khabar berfungsi sebagai penjelas bagi mubtada’ sehingga makna dalam kalimat tersebut menjadi sempurna. Tanpa khabar maka kata yang menjadi mubtada’ tidak menunjukkan makna apapun kecuali arti dari kata itu sendiri. Coba perhatikan kembali contoh ungkapan di atas. Tanpa kata qoriibun maka kita tidak mendapatkan penjelasan apapun mengenai masjid tersebut. Oleh karena itu, ketika kata qoriibun disandarkan kepada kata al-masjidu maka kita mendapatkan kejelasan makna bahwa masjid itu dekat, tidak jauh.
Pembahasan Kedua
Mari kita membahas contoh ungkapan lainnya terkait dengan mubtada’ khabar. Perhatikan kalimat berikut ini!

Kedua ungkapan kalimat di atas adalah kalimat sempurna yang susunannya terdiri dari mubtada’ dan khabar. Pada kalimat pertama kita mendapatkan penjelasan/informasi bahwa bandara itu terletak jauh dari taman kota. Begitu juga dengan kalimat kedua yang menjelaskan kepada kita bahwa sekolah itu terletak jauh dari taman kota. Namun, dari kedua kalimat tersebut terdapat perbedaan pada khabar-nya, yaitu بَعِيْدٌ dan بَعِيْدَةٌ.
Mengapa bisa begitu? Mari kita bahas satu persatu.
Pertama-tama kita mesti mengingat kembali istilah isim mudzakkar dan isim muannats. Isim mudzakkar adalah kata yang menunjukkan makna maskulin. Sedangkan isim muannats adalah kata yang menunjukkan makna feminim, biasanya kata ini ditandai dengan huruf ta’ marbuthoh (ة / ــة) di akhir kata.
Nah, kita bahas kalimat pertama. Di sana, mubtada’ المَطَارُ adalah jenis isim mudzakkar sehingga khabar-nya pun menyesuaikan jenisnya. Oleh karena itu, kata بَعِيْدٌ berubah dalam bentuk mudzakkar karena menyesuaikan mubtada’-nya.
Pada kalimat kedua, mubtada’ المَدْرَسَةُ adalah jenis isim muanntats sehingga khabar-nya menyesuaikan jenisnya menjadi muanntats juga. Oleh karena itu, kata بَعِيْدٌ berubah dalam bentuk muanntats menjadi بَعِيْدَةٌ.
Sebagai catatan perubahan khabar di atas adalah karena khabar tersebut merupakan kata sifat. Kata sifat akan selalu mengikuti bentuk isim yang disandarinya. Selain kata بَعِيْدٌ kita juga mengenal kata sifat lainnya dari contoh ungkapan dialog di atas. Di antaranya adalah قَرِيْبٌ, كَبِيْرٌ, طَوِيْلٌ, وَاسِعٌ، مُزْدَحِمَةٌ, جَمِيْلٌ dan lain sebagainya.
Perhatikan beberapa contoh kalimat berikut ini untuk memahami lebih lanjut perubahan kata sifat dari bentuk mudzakkar menjadi muanntats karena menyesuaikan bentuk mubtada’.


Pembahasan Ketiga
Di pembahasan ketiga ini kita akan mempelajari khabar dalam bentuk kata kerja. Seperti halnya dalam bahasa Indonesia di mana kita bisa menemukan predikat dalam bentuk kata kerja, khabar pun juga bisa dalam bentuk kata kerja (فِعْلٌ).
Perhatikan contoh kalimat berikut ini.

Kata المَسْجِدُ adalah mubtada’ karena kata tersebut merupakan isim yang terletak di awal kalimat. Sedangkan kata تَقَعُ adalah khabar untuk kata al-madrosatu. Kata تَقَعُ merupakan kata kerja yang menjelaskan mubtada’ sehingga membentuk informasi bahwa sekolah tersebut terletak di depan masjid. Coba kita perhatikan beberapa kalimat berikut ini.

Pembahasan Keempat
Selain dalam bentuk isim dan fi’il, khabar juga bisa dalam bentuk preposisi atau menerangkan tempat. Perhatikan contoh berikut ini.

Pada kalimat pertama, khabar untuk kata al-madrosah adalah أمَامَ المَسْجِدِ. Sedangkan untuk kalimat kedua, khabar untuk kata al-tholibah adalah fi al-fashli.
Pembahasan Kelima
Dari pembahasan-pembahasan di atas kita memahami beberapa ketentuan terkait dengan susunan kalimat lengkap (sempurna) dalam bahasa Arab.
Mubtada’
Beberapa hal yang perlu dipahami terkait dengan mubtada’ adalah:
Mubatada’ adalah isim yang berada di awal kalimat. Di sini, isim tersebut harus diikuti dengan alif lam dan berharakat dlummah.
Mubatada’ juga bisa berupa isim dalam bentuk nama orang, kota, negara, atau secara umum adalah nama/julukan.
Mubatada’ juga bisa berupa kata ganti.